Jumat, 25 November 2011

Sejarah Trenggalek

Ringkasan Sejarah Trenggalek ini diambil dari buku Induk “Sejarah Trenggalek” yang dihimpun dan diterbitkan oleh Panitia Sejarah Trenggalek bersama para sarjana sejarah Institute Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Dalam ringkasan ini hanya akan disebutkan bab-bab yang penting saja, yakni :

A. Zaman Pra Perdikan
B. Zaman Perdikan :
1. Perdikan Hindu.
2. Perdikan Islam.
C. Zaman Trenggalek Awal.
D. Zaman Trenggalek Gemilang.
E. Zaman Trenggalek Wibawa.

A. Zaman Pra Perdikan

Pada jaman Pra Perdikan atau jaman Pra Sejarah, di kawasan Trenggalek sudah ada manusia yang bertempat tinggal, kendati dengan kebudayaan yang masih sangat sederhana, sebagaimana biasa terjadi di kawasan lainnya.Banyak benda-benda peninggalan sejarah yang ditemukan di daerah ini yang menunjukkan hasil budayan zaman Nirleka, seperti : Watu Saji, Watu Dakon, Lumpang Watu, Watu Palinggih, dan sebagainya. Benda-benda ini ditemukan di tempat-tempat yang merupakan lokasi lalu-lintas dan tempat tinggal manusia kala itu, di antara Pacitan-Panggul-Wajak-Tulungagung. Ini adalah zaman Megalitikum atau zaman Neolitikum.

B. Jaman Perdikan

Zaman Pra-Sejarah diakhiri oleh zaman Sejarah atau zaman Perdikan, yakni masa di mana manusia sudah mengenal sastra-tulis kendati dengan wujud yang masih sangat sederhana. Pada zaman ini kawasan Trenggalek termasuk dalam kekuasaan mPu Sindhok. Ini dibuktikan banyaknya ditemukan prasasti buatan mPu Sindhok, yang menjadi bukti sejarah ialah Prasasti Kampak. Mpu Sindhok berkuasan di Jawa Timur antara tahun 851 Saka bertepatan dengan 929 Masehi.

Dari Prasasti Kampak bisa diketahui bahwa Trenggalek pernah menerima anugerah berupa kemerdekaan yang diberikan pada daerah Perdikan Kampak. Prasasti ini juga menunjukkan seberap luas kekuasaan Raja Mpu Sindhok, yakni ke selatan sampai ke Samudera Indonesia - termasuk daerah Panggul, Munjungan dan Prigi. Di bagian utara kekuasaan Mpu Sindhok mencapai daerah Dawuhan yang sekarang merupakan kawasan utara kota Trenggalek.

Dalam Prasasti Kampak menunjukkan bahwa bumi kawasan ini memang diistimewakan, karena kawasan ini merupakan hadiah dari Bathara I Sang Hyang Prasadha Kabhaktian I Pangurumbigyan I Kampak.

Kerajaan Kahuripan runtuh dan selanjutnya menjadi wilayah Kerajaan Kediri, yang dikuasai oleh Trah Airlangga. Dinasti kerajaan Kediri yang menjadi raja terakhir adalah Prabu Kertajaya dengan julukan Sri Sarweswara Triwikramamawatara Ninditya Srenggalancana Digwijayatunggadewa yang dikenal pula dengan Prabu Dhandhanggendhis.

Pada zaman Prabu Kertajaya, Trenggalek sudah muncul di panggung sejarah dan masuk dalam masa Perdikan. Sebagai bukti kesungguhan perhatian Prabu Kertajaya terhadap Trenggalek, bisa dilihat pada prasasti Kamulan yang dibuat pada Tahun 1116 Saka atau 1194 Masehi.

Prasasti Kamulan ditemukan di desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Bagian depan prasasti memuat 31 baris kalimat dan bagian belakang mencantumkan 33 baris. Sebagian dari prasasti menceritakan bahwa kala itu Prabu Kertajaya terpaksa harus hengkang dari Keraton Kediri sampai di Kamulan, akibat serbuan musuh kerajaan. Berkat bantuan dan perlindungan dari seluruh rakyat di Kamulan, Prabu Kertajaya berhasil memenangkan peperangan dan mengusir musuh, lalu kembali ke Keraton kediri. Selanjutnya atas jasa-jasanya ini, rakyat Kamulan dianugerahi Tanah Perdikan di Kamulan, Trenggalek. Berdasarkan Prasasti Kamulan tersebut menunjukkan bahwa sejak kala itu Trenggalek sudah menjadi daerah Swatantra.

Menurut para budayawan dan hasil penelitian para ahli sejarah, Prasasti Kamulan peninggalan Prabu Kertajaya inilah yang terkuat untuk dijadikan patokan untuk membedah Sejarah Trenggalek. Prasasti Kamulan ditulis pada bulan "Bhadrawaulan da perangan Suklapaksa, dinten Budha Kaliwuan tahun Saka 1116". Dengan demikian, berpedoman pada Prasasti Kamulan ini, lahir dan berdirinya Trenggalek bisa dipastikan jatuh pada hari Rabu Kliwon, tanggal 31 Agustus 1194 Masehi.

Zaman Perdikan terbagi dalam dua pase, yakni pase Perdikan Hindu dan pase Perdikan Islam. Di pasa Hindu banyak ditemukan bukti kebudayaan yang berwujud candi, patung, lingga, yoni dan sejenisnya. Peninggalan tersebut sampai kini masih dapat dilihat di desa Dombyong, Kecamatan Bendungan, Ngreco di Sukorame, Kecamatan Gandusari, juga di Watulimo dan lain-lain.

Jaman Perdikan punika kaperang dados kalih, inggih punika Jaman Perdikan Hindu lan Jaman Perdikan Islam. Ing Jaman Perdikan Hindu, kathah sanget wohing kabudayan ingkang awujud candhi, reca, lingga, yoni lan sapanunggalanipun. Tetilaran
barang-barang patilisan candhi-candhi wau taksih kathah pinanggih ing laladan Trenggalek, kadosta : ing Dompyong – Bendungan, Ngreco-Sukorame-Gandusari, Watulimo, lan sanes-sanesipun.

Sesudah pase Perdikan Hindu, disusul pase Perdikan Islam, yakni di mana Agama Islam berkembang sangat pesat di wilayah Trenggalek, sehingga perdikan-perdikan Hindu tersebut menyatakan diri sebagai bagian dari perdikan Islam. Kendati demikian, yang berhasil dicatat ahli sejarah hanya ada dua bukti, yakni:

1. Pondok Pesantren Sumbergayam yang terhitung paling tua.
2. Makam Menak Sopal, di batu nisan isterinya tertulis "Candra Sengkala Memet" yang berbunyi “Sirnaning Puspita Cinatur Wulan” yang berarti tahun 1490 Saka, atau tahun 1568 Masehi.

C. Zaman Trenggalek Awal

Berakhirnya zaman Perdikan Islam adalah saat Trenggalek memasuki Zaman Trenggalek Awal. Periode ini terhitung sejak tahun 1830 sampai tahun 1932 Masehi, yakni zaman yang penuh dengan perubahan tata pemerintahan Belanda. Peristiwa sebelum tahun 1930 yang menggegerkan suasana di Jawa ialah terjadinya "perang Pacinan", di mana VOC telah melakukan pembunuhan dan penganiayaan terhadap banyak warga keturunan China. Peristiwa ini terjadi di Betawi pada tanggal 10 Oktober 1740.


Kejadian tersebut juga berdampak sangat besar terhadap Keraton Kartasura, karena Mas Garendi yang berjuluk Sunan Kuning dengan terang-terangan memberikan perlindungan kepada warga China yang memberontak dan membangkang terhadap kekuasaan Keraton Kartasura, yakni pada tanggal 30 Juni 1742. Hingga Sunan Paku Buwana II terpaksa turun dari tahtanya dan mengungsi ke Ponorogo. Kemudian, atas bantuan Bupati Mertodiningrat, Sunan Paku Buwana II berhasil membasmi dan menghancurkan semua pasukan pemberontak.

Sebagai tanda terima kasihnya, Sunan Paku Buwana II memberikan anugerah kepada Bupati Mertodiningrat, yakni putranya yang bernama Sumotruno, dinobatkan sebagai Bupati di Trenggalek. Sumotruno adalah Bupati pertama Trenggalek. Selanjutnya, urutan Bupati pada masa ini adalah sebagai berikut :

1. Sumotaruno Bupati Trenggalek Pertama;
2. Bupati Ngabehi Surengrono (Zaman Perang Mangkubumen) sesuai Perjanjian Gianti tanggal 13 Pebruari 1755, Kabupaten Trenggalek dibagi menjadi dua wilayah, yakni Bagian Timur masuk Kabupaten Ngrawa, dan sebelah Barat masuk Kabupaten Pacitan.
3. Bupati RT Mangunnegoro;
4. Bupati RT Aryo Kusumo Adinoto;
5. Bupati R. Ngabehi Joyopuspito (RT Pusponegoro);
6. Bupati R. Gondokusumo (Tumenggung Sumo Adiningrat) tahun 1845 - 1850;
7. Bupati Mangun Diredjo, tahun 1850 – 1894;
8. Bupati Wijoyo Kusumo, tahun 1894 – 1904;
9. Bupati Purbo Negoro, wiwit tahun 1904 – 1932, ingkang minangka panutuping Jaman Trenggalek Wiwitan.


D. Zaman Trenggalek Gemilang


Pada zaman Trenggalek Gemilang tidak banyak peristiwa yang tercatat yang berhasil dihimpun oleh para sarjana dan ahli sejarah. Kecuali peristiwa penyerahan kedaulatan yakni serah terima antara Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia (RI). Waktu itu pemerintah Belanda diwakili Majoor Crew dan Karis Soemadi, sedangkan Pamerintah Republik Indonesia diwakili Moekardi, R. Roestamadji dan Kardono.

E. Zaman Trenggalek Wibawa

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1950, Kabupaten Trenggalek terbagi menjadi 4 (empat) Kawedanaan, yakni :

1. Kawedanan Trenggalek;
2. Kawedanan Karangan;
3. Kawedanan Kampak; dan
4. Kawedanan Panggul.


Nama-nama Bupati Zaman Trenggalek Wibawa, adalah:

1. Bupati Notosoegito;
2. Bupati R. Lantip, pada masa pemerintahannya, DPRS (Dewan Perwakilan Rakyat Sementara) sudah terbentuk dan diketuai oleh R. Oetomo;
3. Bupati Moeprapto; Pada masa ini berdasarkan UU No. 20 dan No. 12 tahun 1950, serta Peraturan Pamarentah No. 52 Tahun 1950, kawasan Trenggalek kembali dipulihkan hingga seperti saat ini. Dan yang ditunjuk sebagai Bupati adalah Moeprapto terhitung sejak tanggal 27 Desember 1950 sampai 21 Januari 1958; Pada Tahun 1951 saat Bupati Moeprapto berkuasa kehidupan rakyat Trenggalek laksana "ketiban Ndaru", gebyarnya sangat masyhur. Sehingga pada saat itu, Presiden Pertama RI Ir. Soekarno sang Proklamator, berkenan datang ke Trenggalek dan menyampaikan pidatonya di Aloon-aloon Trenggalek.
4. Bupati Abdul Karim Diposastro, didampingi Kepala Daerah R.Soepangat Prawirawinata;
5. Bupati Soetomo Koencahya, yang karena terlibat G 30 S/PKI, harus diamankan oleh Pemerintah Orba.
6. Bupati M. Hardjito, tanggal 1 Oktober 1965 - 30 Januari 1967. M. Hardjito adalah bupati Trenggalek pertama yang dinobatkan pada masa Orde Baru;
7. Bupati Moeladi, tanggal 1 Pebruari 1967- tanggal 1 Oktober 1967;
8. Bupati Soetran, tahun 1968 - tahun 1975. Pada masa pemerintahannya inilah Trenggalek berhasil menjadi Kabupaten pertama di Jawa Timur yang berhasil meraih penghargaan “Parasamya Purnakarya Nugraha” ing tahun 1974. Di mana karena jasa-jasanya, H. Soetran diangkat menjadi Gubernur di Irian Jaya oleh Pemerintah Pusat.
9. Bupati M. Ch. Poernanto;
10. Bupati Soedarso, menjabat Bupati Trenggalek tanggal 4 September 1975 - tanggal 2 Oktober 1985. Dalam masa pemerintahan Soedarso inilah, Sejarah kelahiran Trenggalek bisa ditetapkan tanggal 31 Agustus 1194 M.
11. Bupati H. Haroen Al Rasyid tanggal 2 Oktober 1985 - tanggal 2 Oktober 1990;
12. Bupati Drs. H. Slamet tanggal 2 Oktober 1990 - tanggal 2 Oktober 1995;
13. Bupati Drs. H. Ernomo, tanggal 2 Oktober 1995 - 2 Oktober 2000;
14. Bupati Ir. H. Mulyadi WR, tanggal 2 Oktober 2000 - 2 Oktober 2005;
15. Bupati H. Soeharto, tanggal 2 Oktober 2005 sampai tanggal 4 Oktober 2010;
16. Bupati H. Mulyadi WR, tanggal 4 Oktober 2010 - berakhir pada Oktober 2015.

Tumbuh dan berkembangnya Trenggalek jika dikaji secara mendalam memang berbeda dengan kabupaten lainnya, meskipun sama-sama kawasan mataraman. Akar kata "Treng lan Galih" yang kemudian karena pengaruh bahasa ucapannya menjadi "Trenggalek" adalah sangat cocok dengan wujud dan wataknya bumi Trenggalek. Karena itulah, sebagai doa dan harapan "Sejarah Trenggalek" selalu diringi dengan slogan "JAYA WIJAYAGUNG TRENGGALEK JAYATI".



*sumber:prigibeach.com

Kesenian Trenggalek

Trenggalek yang diwarnai dengan mayoritas budaya masyarakat agraris memberikan peluang kehidupan kesenian jaranan. Diwilayah kecamatan dongko, terletak didaerah pegunungan 30 km kerah selatan kota Trenggalek, terdapat upacaraadat baritan yang hidup turun temurun, hingga upacara tsb menjadi sebagian dari kehidupan masyarakat yang ada diwilayah tersebut.


Kehidupan sehari hari yang lebioh dominant pada sector pertanian dan perdagangan mengkondisikan upacara adapt baritan tersebut sebagai salah satu bagian kehidupan yang diselenggarakan secara rutin sebagai media komunikasi terhadap tuhan yang maha esa.

Upacara baritan adapt tersebut diselenggarakan setiap tahun pada bulan Syura(Muharam) dengan hari dan tanggal yang ditentukan oleh sesepuh(Pawang) yakni orang yang dianggap menguasai tentang hal tsb. Para petani pemilik rojo koyo berkumpul sambil membawa perlengkapan sesaji berupa ambeng dan longkong dan membawa tali yang dibuat dari bamboo yang disebut dadung.


Waktu upacara diselengggarakan siang hari sekitar pukul 11 WIB , para petani sudah istirahat dalam mengerjakan sawah dan ladangnya.

Karena upacara itu dilaksanakan bubar ngarit tanduran, maka diberi nama Baritan( menurut mbah Karto sentono). Setelah upacara selesai diteruskan dengan pentas kesenianlangen Tayub ditempat bekas tumpukan dhadhung tadi. Dhadhung yang telah dimanteraidibagikan kepada pemilik semula dan disimpan yang baik diatas pogo. Dengan menyimpan dhadhung tersebut , atas berkat Tuhan Yang Maha Esa, hewannya akan terhindar dari gangguan malametaka dan penyakit.
Namun upacara baritan tersebut pada bebrapa tahun yang lalu sudah ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya.  Untuk melestarikan uparacara pada tahun 1971 penilik kebudayaan( Bapak Sutyono) beserta seninam berusaha menciptakan suatu bentuk tari yang bias mendatangkan masyarakat tanpa diundang, yaitu tari jaranan. Didalam melaksanakan upacara adat baritan yang dulu hiburannya lengen Tayub, diganti kesenian jaranana, karena kesenian jaranan dianggapn sangat cocok untuk  hiburan pada upacara tsb.

Berangkat dari kesenian jaranan yang terdapat pada upacara adapt Baritan tsb melahirkan ide untuk memprojeksikan kembali berbagai sentuhan estetis kesenian jaranan yang ada pada upacara baritan tsb pada wujud baru, yaitu tari Turonggo Yakso.

KEHIDUPAN TARI TURONGGO YAKSO
.

Sekitar tahun 1980 an tari Turonggo yakso berkembang di Kab. Trenggalek. Pembinana dan pengembangan tersebut atas prakarsa kartor depdikbud bersama pemda kab. Trenggalek, dengan dipacu dengan berbagai bentuk festival yang diselenggarakan setiap tahun sekali pada bulan Agustus unutk tingkat Sd, SLTP, SMA.

Dari kegiatan tsb berbagai upaya mencari bentuk baru terjadi pada setiap penyajian oleh grup grup jaranan. Ragam gerak baru bermunculan setiap saat pada waktu berpentas. Meskipun pada mulanya Jaranan Turonggo Yakso tersebut bermula dari daerah dongko, namun perkembangan ya diluar sangatn pesat.

Berkat property ang dianggap merupakan symbol seni yang mempunyai keindahan serta kekuatan tersendiri , maka property tari turonggo yakso yuang terbuat dari kulit kerbau dengan bentuk visual terdiri atas badan kuda dan kepala raksasa tersebut makin popular sebagai property tari jaranan kas Trenggalek. Author:  Autor: Sukamto

Khasiat Wayang

Orang tua itu dengan semangat kemudian menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jepang yang masih diingatnya dengan jelas. Lagu-lagu itu adalah lagu yang diajarkan oleh “Saudara Tua” kita Jepang, dan harus dinyanyikan setiap hari oleh Saudara mudanya. Suara yang keluar dari mulutnya yang sudah tak ditumbuhi gigi lagi, masih terdengar dengan jelas.

wayang2
Ketika kemudian saya tanya (dalam bahasa Jawa) apa arti dari lagu yang dinyanyikan, maka sambil tertawa renyah dia menjawab sambil menggelengkan kepalanya : “Kulo piyambak mboten ngertos he … Namung waton apal kemawon (Saya sendiri tidak mengerti artinya, asal hapal saja)”.
Lalu dengan tanpa diminta beliau menceritakan bahwa pada jaman Jepang anaknya sudah empat. Lha … jadi berapa usianya sekarang ? Maka dengan bangganya dia mengatakan bahwa dia telah mengarungi hidup di bumi Indonesia ini selama lebih dari 90 tahun.
Dan yang saya kagumi dari beliau, diusia yang sudah lanjut begitu, panca indranya masih berfungsi dengan baik, ingatannya masih bagus dan semangatnyapun masih membara. Tidak heran karena struggle of live dia begitu kuat. Dulu, jalan kaki dari Klaten ke Yogya dengan menggendong beras untuk dijual dilakoninya cukup lama. Pada masa awal-awal kemerdekaanpun beliau ditempa dengan kerja keras dan hidup yang berat. Namun semua dijalaninya dengan baik hingga kini.
Bahkan sekarangpun dia masih ikut “membantu” di perusahaan batik salah satu cucunya. Hebat betul simbah satu ini.
Apa kunci sukses hidupnya ?
Disamping kerja keras dan ikhlas, dia adalah penggembar wayang sejati. Sewaktu mengawali ngobrol dengan saya waktu itu, dia menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu sempat menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Anom Suroto di Jatinom, nggak jauh dari tempat tinggalnya.
Dengan lancar dia menceritakan kembali lakon yang ditampilkan dan mengulas sedikit filosofi cerita yang dikandungnya. Sambil bercerita dia memberi petuah tentang karakter-karakter tokoh wayang itu dikaitkan dengan kehidupan nyata.
Tidak bosan ngobrol dengan dia karena pengalaman hidupnya begitu banyak dan beragam. Sayang saya waktu itu tidak bawa HP atau kamera sehingga tidak bisa mengabadikan beliau.
Itulah Mbah Sastro. Dengan mencintai wayang, dia menjalani hidupnya dengan penuh ketenangan dan selalu bersemangat meskipun usianya menjelang satu abad.

Ensiklopedia Wayang


Sekilas pratinjau Buku ini dapat ditemui di Google Book. Cukup banyak halaman yang ditampilkan untuk dapat dibaca pratinjaunya. Bagi yang belum bisa download pratinjau buku itu, saya coba downloadkan dan sudah saya jadikan dalam 2 file, minimal dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang isi buku. Bagi yang berminat silahkan beli di toko buku atau secara online.
Sebagai referensi saya kutip penjelasan dari Pak Budi Adi S. di facebook.
Ensiklopedi Wayang Purwa karangan R. Rio Sudibyoprono.
(pertama diunggah 11 Juni 2009 : Budi Adi Soewirjo)
Saat ini di samping enam jilid Ensiklopedi Wayang terbitan Senawangi tahun 1999, ada satu ensiklopedi lain yang komplit yaitu :
(saya kutip dari buku “Kepustakaan Wayang Purwa (Jawa) karangan Budi Adi Soewirjo) :

Ensiklopedi Wayang Purwa. Didasarkan pada naskah “Biografi Wayang Purwa” oleh R. Rio Sudibyoprono, disusun kembali oleh : Drs. Suwandono, Dhanisworo BA, Mujiyono SH ; terbitan Balai Pustaka ( http://www.facebook.com/note.php?note_id=79390714020 )tahun 1991, ISBN 979-407-341-5.
Ensiklopedi ini menguraikan tokoh wayang (para dewa, tokoh cerita Mahabarata dan Ramayana), maupun uraian tentang nama negara, senjata, ajian. Banyak terdapat catatan menurut versi pedalangan. Ensiklopedi ini disusun menurut abjad nama. Photo wayang dalam buku ini sangat sedikit.
Uraian tentang tiap tokoh wayang mencakup antara lain : nama lain tokoh tersebut (dasa nama, Jawa), silsilah dan keluarga, tempat tinggal, watak dan kepribadian, kesaktian / senjata / ajian yang dimiliki, peranannya dalam berbagai lakon (kebanyakan lakon tersebut diceritakan secara ringkas), macam “wanda” wayang kulit tokoh tersebut.
Dalam kata sambutan, Suwandono sebagai pemimpin team penyusunan menjelaskan bahwa buku “Ensiklopedi Wayang Purwa” ini diterbitkan oleh Proyek Pembinaan Kesenian Jakarta melengkapi buku “Biografi Wayang Purwa” berejaan lama yang pernah diterbitkan oleh Direktorat Kesenian.
[Catatan : dari Daftar Kepustakaan buku “Wayang dan Senawangi jilid I : Wayang Purwa” karangan Pandam Guritno (1985 = cet.?) halaman 437 didapat data bahwa buku”Biografi Wayang Purwa” diterbitkan tahun 1972 sedangkan buku “Ensiklopedi Wayang Purwa I (Compendium) diterbitkan tahun 1979] [Tahun 1991 buku “Ensiklopedi Wayang Purwa” ini diterbitkan kembali oleh penerbit Balai Pustaka].

Untuk mengetahui kepustakaan acuan yang dipakai menyusun eksiklopedi ini, di bawah ini dikutip lengkap keterangan di dalam ensiklopedi tersebut mengenai Dasar Gubahan :
“ Perihal wayang purwa telah banyak dipaparkan di dalam berbagai kitab yang mempunyai persamaan dan perbedaannya.
Isi dan gubahan serta susunan gubahan di dalam buku : Ensiklopedi Wayang Purwa (Compendium) ini, disandarkan pada alas pegangan yang terdapat di dalam pewayangan, pakeliran dan pedalangan, yang pada hakekatnya berpijak pada : “Serat Purwacarita”.
Dan sebagai bahan kelengkapan yang penting, di sana sini didampingi pula dengan beberapa nukilan dari kitab-kitab lain yang dikenal oleh masyarakat luas, yaitu :
1. Kitab Mahabarata.
2. Kitab Ramayana atau Serat Rama.
3. Serat Kanda.
4. Serat Paramayoga.
5. Serat Pustaka Raja Purwa dan
6. Serat Purwakanda.

Tetapi, apabila di dalamnya terdapat hal-hal yang keluar dari garis pokok kitab-kitab yang disebutkan di atas, hal tersebut adalah sudah merupakan kelaziman bagi masyarakat luas yang telah mengenal atau memiliki cerita-cerita / lakon-lakon wayang sebagai gubahan kreatif para dalang dan masyarakat sendiri, serta telah menjadi kisah-kisah yang hidup dan berkembang, digemari dan telah mendarah-daging bagi bangsa Indonesia. “
(akhir 11 Juni 2009)

Judul Buku Ensiklopedi Wayang Purwa
Pengarang R. Rio Sudibyoprono
Penerbit Balai Pustaka
Tahun 1991
Bahasa Bahasa Indonesia